Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) MBS Yogyakarta tersebut disambut langsung oleh Ketua PCM Prambanan Sleman, dr. H. Omar Indroyono, beserta jajaran.
Kunjungan ini menjadi momentum bagi PCM Metro Barat bersama jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) untuk menggali pengalaman PCM Prambanan Sleman dalam mengembangkan dakwah, amal usaha, pendidikan, pelayanan sosial, serta membangun kekuatan organisasi di tengah masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama rombongan adalah keberadaan Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) MBS Yogyakarta sebagai salah satu amal usaha penting dalam pengembangan kader dan pendidikan Muhammadiyah.
PPM MBS tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian strategis dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki pemahaman keislaman, karakter, serta semangat ber-Muhammadiyah.
Selain bidang pendidikan, PCM Prambanan Sleman juga memiliki perhatian kuat terhadap pelayanan sosial melalui layanan ambulans gratis bagi masyarakat. Layanan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat. Ambulans tidak hanya diposisikan sebagai fasilitas organisasi, tetapi menjadi sarana pelayanan kemanusiaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.
“Ngandeng, Ngendong”: Merangkul dan Menguatkan
Ada sebuah semangat yang menarik dari PPM MBS Yogyakarta yang menjadi bagian dari pembelajaran rombongan PCM Metro Barat, yakni jargon “Ngandeng, Ngendong.”
Semangat tersebut menggambarkan pentingnya membangun gerakan dengan cara merangkul, membersamai, dan menguatkan. Muhammadiyah tidak cukup hanya membangun lembaga, tetapi juga harus mampu membangun manusia dan mengajak sebanyak mungkin elemen masyarakat untuk tumbuh bersama. Spirit inilah yang dinilai relevan untuk diterapkan dalam pengembangan Muhammadiyah di Metro Barat.
Ketua PCM Metro Barat, H. Tukijo, S.Ag., M.Sy., mengatakan bahwa study tiru bukan sekadar kegiatan berkunjung, melainkan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana Muhammadiyah di daerah lain mengelola organisasi dan amal usahanya.
“Kami datang bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk belajar. Banyak hal yang kami dapatkan dari PCM Prambanan, terutama bagaimana mengembangkan amal usaha pendidikan dan pelayanan sosial agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar H. Tukijo.
Menurutnya, keberadaan PPM MBS Yogyakarta memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan dan kaderisasi harus menjadi bagian utama dalam membangun keberlanjutan gerakan Muhammadiyah.
“Kami ingin apa yang kami lihat di sini bisa menjadi inspirasi untuk Metro Barat. Tentunya tidak semuanya langsung kami salin, tetapi kami akan mengambil nilai, strategi, dan semangatnya untuk kemudian kami sesuaikan dengan kondisi masyarakat di Metro,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua PDM Kota Metro, H. Kustono, S.Ag., yang turut dalam rangkaian study tiru, menilai bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas PCM dan PRM. Menurutnya, Muhammadiyah harus terus belajar dari berbagai daerah yang telah berhasil mengembangkan gerakan dengan karakteristik masing-masing.
“Study tiru ini adalah bagian dari ikhtiar untuk memperkuat Muhammadiyah di Kota Metro. Kita melihat bagaimana cabang lain mengelola pendidikan, pelayanan sosial, dan kaderisasi. Ini harus menjadi bahan evaluasi sekaligus inspirasi agar PCM dan PRM di Kota Metro semakin mandiri dan memiliki amal usaha yang memberi manfaat luas,” ungkap H. Kustono.
Ia Juga menekankan pentingnya membangun gerakan Muhammadiyah yang tidak hanya kuat secara kelembagaan, tetapi juga dekat dengan masyarakat.
“Kita ingin Muhammadiyah hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan kegiatan keagamaan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah wajah Muhammadiyah yang berkemajuan,” tegasnya.
Dari Prambanan untuk Metro Barat
Kegiatan study tiru PCM Metro Barat ke PCM Prambanan Sleman menjadi salah satu rangkaian perjalanan pembelajaran Muhammadiyah Metro Barat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Dari PPM MBS Yogyakarta, rombongan mendapatkan gambaran bagaimana lembaga pendidikan dapat menjadi pusat kaderisasi dan pengembangan dakwah. Sementara layanan ambulans gratis menjadi contoh bagaimana amal usaha sosial dapat menjadi instrumen dakwah yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Semangat “Ngandeng, Ngendong” pun menjadi pesan penting dari perjalanan tersebut: bahwa membangun Muhammadiyah membutuhkan kekuatan untuk merangkul, membersamai, dan menguatkan satu sama lain.
PCM Metro Barat berharap pengalaman yang diperoleh dari PCM Prambanan Sleman dapat diterjemahkan menjadi gagasan konkret di Metro Barat, sehingga gerakan Muhammadiyah semakin kuat dari tingkat cabang hingga ranting.
Bukan sekadar melihat keberhasilan cabang lain, tetapi membawa pulang semangat untuk membangun Muhammadiyah yang lebih hidup, mandiri, dan memberi manfaat bagi masyarakat. (MT)
.jpeg)
